Scars are tattoos
with better stories.

Personal Stories

"KEYAKINAN MEMBAWA PENYEMBUHAN"
Shanti R. Persada, 46 tahun
Survivor (3 tahun)

Jakarta, Oktober 2013.

Sabtu, 12 Maret 2010, hari yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidup saya, karena pada hari itu dokter menyatakan saya mengidap kanker payudara stadium 3B. Pada saat itu rasanya bumi berhenti berputar sejenak. Tapi untungnya, hanya beberapa detik kemudian, saya sadar dan bertanya kepada dokter apa langkah selanjutnya yang harus saya jalani. Dokter menjelaskan dengan sabar kalau saya harus 6 kali di-kemoterapi, lalu di-mastektomi, kemudian dilanjutkan kemoterapi Herceptine 14 kali, dan radiasi 25 kali. Saya tidak mengerti apapun yang dijelaskan oleh dokter waktu itu, yang ada dipikiran saya hanya saya harus sembuh saya harus bisa melalui semua ini.

Setelah berkonsultasi dengan Rumah Sakit untuk melakukan biopsi, secepatnya saya pulang ke rumah, terbayang muka keluarga yang menunggu di rumah dan saya tidak bisa membayangkan bagaimana mimik dan perasaan mereka jika saya menjelaskannya sesampainya saya di rumah. Akhirnya saya sampai di rumah, saat itu hanya ada ayah dan ibu di rumah. Kemudian dengan tenang saya jelaskan pada mereka apa yang didiagnosa oleh dokter. Melihat ibu yang sudah berusia 79 tahun ketika itu beliau kelihatan begitu tegar, saya berusaha untuk lebih tegar daripada beliau. Sehingga kami bisa dengan lebih santai mendiskusikan jalan pengobatan apa yang akan diputuskan. Terimakasih Tuhan sudah mengirim ibu yang bagaikan malaikat buat saya. Saya mengikuti semua saran ibu saya mengenai terapi pengobatan yang akan saya jalani, karena begitu kita didiagnosa memiliki kanker, semua anggota keluarga, teman dan sahabat tentunya menginginkan kita sembuh, dan untuk itu mereka akan ikut mencarikan informasi terapi pengobatan yang terbaik. Dalam waktu bersamaan mereka akan datang dengan berbagai rekomendasi. Oleh karena itu, supaya saya tidak bingung, saya memutuskan untuk bertanya dan mengikuti saran dari ibu saya, karena saya yakin doa ibu yang paling didengar oleh Allah SWT.

Kemudian saya sendiri mulai mencari sebanyak mungkin informasi mengenai kanker payudara, jenisnya apa dan terapi pengobatannya bagaimana, dan saya mendatangi beberapa dokter onkologi. Hasilnya, semua menyatakan yang sama bahwa saya didiagnosa dengan kanker payudara invasive ductal breast carcinoma ER+; PR+ dan HER2+.

Setelah melalui rangkaian pemeriksaan panjang lebih kurang 2 minggu (karena ada beberapa pemeriksaan menunggu hasilnya keluar memakan waktu seminggu), kemudian mulailah dokter menentukan kapan saya akan mulai kemoterapi. Enam kali kemoterapi pertama adalah paclitaxel, dan herceptine dimulai pada 22 April 2010. Kemudian pada Agustus 2010 saya menjalani operasi pengangkatan payudara atau mastektomi dalam istilah kedokterannya.

Pada bulan Oktober 2010 saya menjalani radioterapi sebanyak 25 kali kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi herceptine 14 kali. Saya menyelesaikan rangkaian pengobatan ini pada tgl 30 Juni 2011.

Tidak mudah menjalani terapi yang begitu panjang. Saya adalah manusia biasa yang kadang-kadang bersemangat kadang-kadang putus asa. Setiap saya putus asa, dengan sekuat tenaga saya berusaha kembali bangkit, tentunya dengan dukungan orang-orang terdekat saya bisa kembali bersemangat menjalani terapi.

Di sini saya belajar bahwa kesembuhan akan datang dari dalam diri sendiri, karena jika kita tidak bersemangat maka sia-sia lah terapi medis yang dijalani.

Begitu panjangnya perjalanan terapi yang saya hadapi hanya satu kata yang selalu saya tanamkan di pikiran saya, bahwa saya harus sembuh. Oleh sebab itu saya tetap bekerja, tetap berolah raga, saya tidak boleh kelihatan sakit atau menderita oleh keluarga dan teman-teman saya. Hidup harus tetap berjalan, bahkan harus lebih baik daripada sebelumnya. Untuk itu saya mengubah cara hidup saya, saya lebih meperhatikan diri sendiri, lebih semangat menjalani hidup, dan saya melihat sesuatu dalam hidup ini dari perspektif yang berbeda dengan sebelumnya, di mana semua jauh lebih positif.

Tidak bisa saya pungkiri bahwa kanker ini sudah mengubah hidup saya baik secara fisik maupun mental. Perjalanan panjang terapi kanker sudah membawa saya ke suatu titik di mana saya menjadi diri saya yang sesungguhnya. Bukan dalam arti saya egois bahkan sebaliknya, di mana selama ini saya hanya memberi perhatian kepada keluarga dan sahabat-sahabat saya, sekarang saatnya saya memberi perhatian lebih kepada diri saya sendiri. Ternyata dengan saya lebih memperhatikan diri sendiri dan lebih menyayangi diri sendiri, saya bisa lebih banyak membantu orang lain. Maka mulailah saya berbagi pengalaman dengan teman-teman yang baru didiagnosa kanker payudara. Saya mengunjungi mereka saya untuk berbagi, ternyata dengan ini saya merasa hidup saya jauh lebih berguna untuk saya dan orang lain.

Kepada perempuan pembaca, saya hanya ingin menyampaikan, jangan pernah menyerah, tetap semangat dan selalu berani.

Catatan: Shanti R. Persada adalah penggagas dan Founder 'lovepink', komunitas yang terdiri dari para warrior dan survivor kanker payudara).