Here for you.
Destined for each other.

Blog

April 27,2015

Sekilas Tentang Kanker Payudara

Written by Dr Inez Nimpuno MPS, MA


Kanker

Sel sel di badan kita normalnya tumbuh dan jumlahnya bertambah dengan teratur. Tetapi, jika proses tumbuh dan bertambahnya sel sel ini tidak berjalan dengan semestinya, sel sel di badan bisa berubah sifatnya dan tumbuh tidak terkontrol dan menjadi abnormal. Sel-sel yang tumbuh tidak terkontrol, bisa berkumpul membentuk tumor (benjolan) dan bersifat abnormal ini disebut kanker.

Kanker Payudara

Kanker payudara terjadi apabila pertumbuhan sel yang abnormal tersebut terjadi pada jaringan payudara. Kanker payudara (breast cancer) biasanya ditemukan dengan cara mendeteksi adanya satu atau lebih dari beberapa gejala yang dirasakan oleh seseorang. Yang paling sering dialami adalah ditemukannya benjolan atau penebalan di jaringan payudara. Meskipun pada kenyataannya kebanyakan benjolan di payudara BUKAN kanker, tetapi, jika anda menemukan benjolan di payudara, segeralah ke dokter untuk diperiksa.

Data akurat belum tersedia di Indonesia, tetapi data dari beberapa rumah sakit besar menunjukkan bahwa (bersama dengan penderita kanker leher rahim) jumlah perempuan penderita kanker payudara di Indonesia makin meningkat dari tahun ke tahun

Dari data yang ada, diperkirakan, di Indonesia, sebagian besar (70%) penderita kanker ditemukan dengan stadium yang sudah lanjut. Kenyataan ini juga terjadi pada sebagian besar penderita kanker payudara, dimana sering penderita datang ke dokter dengan keadaan kanker payudara yang sudah lanjut.

Apakah laki-laki bisa mengalami kanker payudara?

Ya bisa, tetapi kanker payudara pada laki-laki sangat jarang ditemukan. Kira-kira, kanker payudara pada laki-laki terjadi 100 (seratus) kali lebih jarang dibandingkan pada perempuan.

Kanker payudara diobati dengan kombinasi dari beberapa cara dibawah ini :

(1) pengambilan benjolan/kanker melalui pembedahan (mastectomy atau lumpectomy)
(2) kemoterapi (chemotherapy)
(3) radiasi (radiotherapy)

 

Tergantung dari stadium nya, yang dilakukan bisa salah satu atau dua dari ketiga opsi pengobatan diatas, atau bahkan ketiga tiganya atau hanya satu opsi saja. Lebih jauh lagi, tergantung jenis kanker payudaranya, ada jenis kanker payudara yang perlu pengobatan tambahan, misalnya dengan terapi hormon (hormonal therapy).

Deteksi Dini

Jika kanker payudara terdeteksi pada stadium dini, kemungkinan untuk sembuh dan pulih kembali sangat tinggi.

Deteksi dini bisa dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya adalah dengan memeriksa sendiri payudara kita secara teratur. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) ini dilakukan sebulan sekali, paling baik dilakukan pada hari ke-7 sampai hari ke-10 dihitung dari hari pertama haid. Bagi yang sudah mengalami menopause, SADARI dilakukan pada tanggal yang sama setiap bulan, misalnya tanggal 10.

SADARI dapat dilakukan saat mandi ketika di depan cermin, dengan memeriksa daerah dekat puting hingga bawah ketiak selama 10 menit. Perhatikan setiap bagian payudara bila ada perubahan atau kelihatan lain dari biasanya.

Tindakan untuk memeriksa payudara sendiri ini sangat penting karena pada kenyataannya, hampir 85% benjolan di payudara ditemukan oleh penderita sendiri.

Jenis kanker payudara

Kanker payudara yang pada waktu ditemukan hanya terdapat di jaringan payudara saja, cenderung kurang ganas jika dibandingkan dengan kanker payudara yang di prediksi mempunyai potensi untuk menyebar atau bahkan sudah menyebar keluar payudara, yaitu ke bagian lain dari tubuh.

Tipe yang paling sering ditemukan adalah 'adenocarcinoma'. Tipe lain dari kanker payudara adalah ductal carcinoma in situ (DCIS) dan lobular carcinoma in situ (LCIS).

Jenis pengobatan yang diberikan tergantung dari tipe kanker payudaranya. Pada umumnya kanker payudara adalah kanker yang tumbuhnya lambat. Kalau kanker menyebar, biasanya penyebaran pertama kali terjadi pada kelenjar getah bening (lymph nodes) yang terletak di bawah ketiak, dan bisa berlanjut ke jaringan/organ tubuh lain seperti paru dan tulang. Proses penyebaran kanker diluar payudara disebut metastase (metastatic disease).

Gejala / tanda adanya kanker payudara

Tanda pertama yang umum dialami pada banyak perempuan dengan kanker payudara adalah adanya benjolan atau bagian yang menebal di payudara mereka. Perlu diingat bahwa kebanyakan (90%) dari benjolan pada payudara bukan kanker. Tetapi, bila anda menemukan benjolan di payudara anda, selalu cek dengan dokter untuk menentukan apakah pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan bahwa benjolan tersebut bukan kanker.

Segeralah ke dokter, jika anda menemukan satu atau lebih dari tanda/gejala dibawah ini:

  Benjolan/tumor atau ada bagian yang menebal di satu atau kedua payudara.
  Perubahan besar/ukuran dan bentuk dari satu atau kedua payudara.
  Ada cairan keluar dari puting payudara (cairan tersebut bisa bercampur darah).
  Ada benjolan/tumor atau pembengkakan di bawah ketiak.
  Ada bagian kulit payudara yang tertarik ke dalam, atau ada bagian yang bekerut seperti kulit jeruk.
  Terdapat bercak, mengelupas, menyerpih, atau bersisik pada atau sekitar puting susu.
  Puting susu kelihatan berubah, misalnya kelihatan seperti tertarik masuk kedalam payudara.
  Rasa sakit pada payudara atau daerah dibawah ketiak yang tidak ada hubungannya dengan masa haid/menstruasi.

 

Penyebab/faktor resiko

Penyebab dari kanker payudara sampai sekarang belum diketahui.

Yang sudah diketahui adalah beberapa faktor resiko (faktor yang ada pada seseorang yang membuat seseorang punya kemungkinan menderita kanker) seperti berikut ini:

1. Bertambahnya usia
  Usia yang bertambah adalah faktor resiko terbesar seseorang mungkin mengalami kanker dalam hidupnya. Kira-kira 75% dari semua kasus kanker payudara terjadi pada perempuan berumur lebih dari 50 tahun.
2. Sejarah keluarga dengan kanker payudara
  Adanya penderita kanker payudara atau/dan kanker indung telur (ovarian cancer) yg dialami anggota keluarga dekat, menjadi indikasi kuat seseorang bisa saja suatu kali di hidupnya terkena kanker payudara.

Seseorang akan dinilai mempunyai kemungkinan tinggi untuk mendapatkan kanker payudara jika mempunyai ibu, saudara kandung perempuan, anak perempuan, ayah, anak laki-laki, saudara kandung laki-laki, tante atau keponakan yang pernah menderita kanker payudara atau kanker indung telur (hanya pada perempuan) sebelum berumur 50 tahun.
Tetapi perlu diperhatikan bahwa 9 (sembilan) dari 10 (sepuluh) orang yang terkena kanker payudara tidak pernah mempunyai anggota keluarga yang pernah sakit kanker payudara. Jadi, hanya 5-10% dari seluruh penderita kanker payudara yang disebabkan oleh faktor keturunan (hereditary factor).
3. Kegemukan
  Perempuan dengan berat badan berlebihan mempunyai resiko terkena kanker payudara yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka dengan berat badan ideal, terutama pada waktu perempuan tersebut menopause (tidak haid/menstruasi lagi).
4. Alkohol
  Minum alkohol lebih dari dua gelas per hari setiap hari, bisa meningkatkan resiko terkena kanker payudara.
5. Terapi pengganti hormon (Hormone replacement therapy (HRT))
  Penggunaan HRT oleh sebagian perempuan selama 5 (lima) tahun atau lebih biasanya di hubungkan dengan meningginya resiko terkena kanker payudara. Level resiko dari seseorang bervariasi tergantung dari keadaan kesehatan umum dan riwayat medis atau penyakit yang pernah di derita. Pada mereka yang memikirkan akan menggunakan HRT, dianjurkan untuk selalu membicarakan dengan dokter terlebih dahulu tentang segala resiko dan kemungkinan yang bisa terjadi dari penggunaan HRT.
6. Pil kontrasepsi
  Resiko kemungkinan terkena kanker payudara bertambah sedikit pada perempuan yang menggunakan pil kontrasepsi Resiko kanker payudara bisa terjadi di tahun tahun penggunaan pil tersebut dan bahkan 10 tahun sesudah berhenti minum pil.
7. Hamil dan melahirkan anak pada usia relatif lanjut atau tidak pernah hamil dan melahirkan anak.
  Perempuan yang pada waktu mempunyai anak pertama berusia muda biasanya mempunyai resiko rendah terkena kanker payudara. Sebaliknya, perempuan yang tidak pernah punya anak atau punya anak pertama pada usia yang lanjut biasanya mempunyai resiko lebih tinggi terkena kanker payudara.

 

Bagaimana kanker payudara di diagnosa.

1. Perabaan
  Banyak dari kanker payudara ditemukan melalui terabanya benjolan di payudara atau ketiak, baik oleh perempuan itu sendiri yaitu melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), atau melalui pemeriksaan payudara oleh dokter.
2. Mamografi dan ultrasound payudara.
 

Setelah ditemukan benjolan melalui perabaan, pemeriksaan selanjutnya adalah dengan alat mammogram. Mamografi/mammogram bisa menunjukkan benjolan meskipun benjolan tersebut tidak teraba, atau meskipun tidak terlihat ada perubahan dari payudara. Biasanya, sesudah pemeriksaan dengan mamografi menunjukkan ada gambaran yang dicurigai sebagai kanker, pemeriksaan bisa dilanjutkan dengan ultrasonografi (USG) untuk memastikan apakah gambaran pada hasil mamografi tersebut kanker atau bukan.

Pada perempuan muda, sering pemeriksaan dilakukan langsung dengan USG karena perempuan muda pada umumnya mempunyai payudara dengan jaringan yang lebih padat (dense). Alasannya karena alat mamografi jauh lebih sukar untuk mendeteksi adanya kanker pada payudara dengan jaringan yang padat.

3. Biopsi
 

Biopsi dilakukan dengan mengambil sejumlah kecil jaringan payudara, lalu dilakukan tes di laboratorium terhadap jaringan tersebut untuk menentukan apakah jaringan tersebut kanker atau bukan.

Biopsi bisa di lakukan dengan beberapa cara yang berbeda tergantung dari kondisi seseorang. Berikut ini adalah beberapa cara biopsi:

- Aspirasi dengan jarum (needle aspiration) bisa digunakan untuk mengambil sample dari sel-sel jaringan payudara atau untuk menarik keluar cairan pada kista di payudara (yang biasanya jinak). (catatan: kista payudara adalah benjolan di payudara yang berisi cairan). Needle aspiration ini menggunakan jarum yang halus untuk mengambil sejumlah sel tanpa sedikitpun mengambil jaringan payudara.
- Biopsi dengan jarum (needle biopsy) adalah biopsi yang paling umum dilakukan dengan cara mengambil sedikit jaringan payudara dengan menggunakan jarum yang besar. Prosedur ini biasanya dilakukan dengan bius/anestesi lokal supaya daerah dimana akan dilakukan biopsi terasa baal.?Needle biopsy biasanya dilakukan dengan cara guided (terpimpin) dengan USG atau X-ray, kadang-kadang juga dengan magnetic resonance imaging (MRI). Cara guided ini dilakukan supaya daerah yang diambil bisa dan lalu diagnose bisa dicapai setepat mungkin.
- Kadang-kadang juga dilakukan pemeriksaan di daerah bawah ketiak dan pengambilan sample sel-sel dari kelenjar getah bening (lymph nodes) di bawah ketiak untuk mengetahui apakah ada lymph nodes yang terkena atau tidak.

 

Pengobatan kanker payudara.

Pengobatan tergantung dari seberapa luasnya kanker menyebar di dalam tubuh seseorang.

Untuk kanker yang masih berada dalam payudara (belum menyebar keluar payudara), dilakukan pembedahan/pengambilan kanker tersebut. Cara yang paling menyeluruh adalah pengangkatan seluruh payudara (mastectomy) dan kelenjar getah bening dibawah ketiak (nodes clearance). Cara lainnya adalah hanya mengangkat benjolan saja (lumpectomy) dan jaringan disekitar benjolan lalu dilakukan radiasi.

Tetapi, hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa dalam hubungannya dengan survival rate (angka bertahan hidup) hasil antara mastectomy dibandingkan dengan lumpectomy plus radiasi ternyata sama. Survival rate antara yang mengalami mastectomy saja dibandingkan dengan yang mengalami lumpectomy dilanjutkan dengan radiasi, ternyata sama.

Bila sesudah pengambilan dan tes sample dari satu kelenjar getah bening (lymph nodes) hasilnya negatif yaitu tidak ada sel kanker, pengambilan sejumlah atau seluruh lymph nodes di bawah ketiak bisa dihindari. (catatan: pengambilan dan tes sample dari satu lymph nodes ini dinamakan biopsi sentinel (sentinel biopsy)).

Sesudah pembedahan (surgery), biasanya dipertimbangkan apakah chemoteraphy dan radiotherapy diperlukan. Untuk seseorang yang dianggap mempunyai resiko kanker kembali di masa datang (recurrence), biasanya dilakukan kombinasi surgery, chemotherapy dan radiotherapy, atau hanya surgery dan chemotherapy. Keadaan apakah seseorang ber resiko mengalami kembalinya kanker ditentukan dengan besarnya ukuran tumor, tingkat keganasan dari sel kanker, dan apakah kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening (lymph nodes) atau belum.

Sesudah selesai seluruh pengobatan yang disebutkan diatas, terapi tambahan lain bisa berupa hormonal therapy dengan penggunaan obat berikut ini:

- tamoxifen atau obat jenis aromatase inhibitor (aromasin atau arimidex dan femara) untuk mereka dengan tumor yang mempunyai reseptor hormon di permukaan sel sel tumornya; atau
- pengobatan dengan chemotherapy dan 'targeted therapy' yaitu dengan penggunaan obat trastuzumab (herceptine) dimana jenis sel tumor nya mempunyai permukaan yang mempunyai reseptor yang bisa menjadi target dari obat trastuzumab.

 

Pencegahan kanker payudara

Karena penyebab kanker payudara belum di temukan, maka tidak mungkin untuk mengetahui cara apa yang pasti bisa mencegah timbulnya kanker payudara, tetapi dengan melakukan DETEKSI DINI maka kanker bisa ditemukan pada stadium dini, sehingga menaikkan secara drastis kemungkinan , seseorang bisa hidup tanpa kanker.

Tiga hal di bawah ini dianjurkan untuk dilakukan dalam rangka menaikkan kualitas hidup seseorang dan menurunkan resiko mengalami kanker payudara atau mengalami kanker payudara dengan stadium lanjut:

1. Skrining payudara (Breast Screening)
  Banyak negara mempunyai program nasional untuk mewajibkan perempuan untuk melakukan skrining payudara dengan mamogram. Biasanya, mamogram di lakukan setiap 2 tahun sekali terhadap mereka yang tidak punya gejala apapun. Tujuannya untuk mendeteksi dini kanker payudara.
2. Hidup sehat dengan makan makanan dan gaya hidup yang sehat
  Berolahraga teratur dan diet yang sehat dianjurkan untuk semua perempuan karena cara ini bisa mencegah macam-macam penyakit lain, termasuk penyakit jantung koroner, diabetes dan banyak jenis kanker lain.
Banyak penelitian dilakukan untuk khusus melihat hubungan antara kanker payudara dan diet/makanan sehat. Sampai sekarang belum ada kesimpulan yang mengatakan bahwa diet yang sehat menjamin seseorang tidak kena kanker. Meskipun demikian, diet dan gaya hidup yang sehat perlu dijaga, karena sudah terbukti bahwa diet dan gaya hidup sehat menjamin tubuh yang sehat.
Meskipun hasil riset yang ada belum bisa memastikan bahwa olahraga teratur bisa mengurangi resiko terkena kanker, tetapi kesimpulan ilmiah sementara mengatakan bahwa olahraga teratur bisa mengurangi sepertiga (30%) resiko terkena kanker payudara. Pada mereka yang sudah dalam masa menopause, kelebihan berat badan atau kegemukan (obesity) lebih baik dihindari. Hal ini dikarenakan jaringan lemak (fat tissue) adalah jaringan tubuh yang memproduksi estrogen paling tinggi pada wanita yang sudah menopause. Kadar estrogen yang tinggi di dalam tubuh, bisa menaikkan resiko terkena kanker payudara.
3. Menyusui (breastfeeding)
  Angka statistik menunjukkan bahwa perempuan yang menyusui mempunyai resiko yang lebih rendah untuk terkena kanker payudara, dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah menyusui bayi mereka. Alasan pasti nya belum ditemukan, tetapi diperkirakan bahwa hal ini terjadi karena perempuan yang sedang menyusui tidak mengalami ovulasi secara teratur dan kadar estrogen dalam tubuh perempuan yang sedang menyusui tetap stabil.

 

Penulis: Dr Inez Nimpuno MPS, MA (dokter dan breast cancer survivor)
Blog: ngobrolkankerpayudara.wordpress.com

Ditulis dari sumber utama
http://www.healthdirect.gov.au/topic/breast-

dan berbagai sumber dibawah ini:
http://www.nhs.uk/Pages/HomePage.aspx
http://www.healthdirect.gov.au/subtopic/causes-breast-cancer
http://www.cancer.gov/cancertopics/pdq/genetics/breast-and-ovarian/HealthProfessional/page2
http://www.cancer.org/cancer/breastcancerinmen/detailedguide/breast-cancer-in-men-key-statistics
http://www.cancer.org/cancer/news/expertvoices/post/2012/10/11/does-being-overweight-cause-breast-cancer.aspx
http://canceraustralia.gov.au/affected-cancer/cancer-types/breast-cancer/treatment/what-does-treatment-breast-cancer-involve/hormonal-therapies/types-hormonal-therapy/menopause-and-oestrogen-production



Back to archive